Friday, October 5, 2012

Sosok Ayah dan TNI

5 Oktober. 
Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) atau yang sekarang telah berubah nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Di sini selain saya, ada yang menonton upacara peringatan HUT ke-67 TNI tadi pagi di TVRI?? 
Sepertinya sudah semakin sedikit orang yang perduli dengan peringatan-perngatan seperti itu.
Apalagi semenjak era Orde Baru berganti menjadi era Reformasi, TNI semakin terpinggirkan, semakin berkurang wibawanya, semakin hilang rasa sungkan dari masyarakat.

***

Sepatu lars hitam, seragam loreng hijau dengan bermacam lambang di dadanya. Ya. Ayah saya dulu pernah memakai setelan gagah pembela negara itu. Setelan panji kebesaran organisasi pelindung Ibu Pertiwi. Sebuah organisasi yang selalu siap sedia mempertahankan kedaulatan negara. Sebuah organisasi (yang dulu) bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Dari kecil, saya sudah di-militerisasi secara tidak langsung oleh ibu saya. Banyak hal-hal berbau militer pada diri saya dulu. Mulai dari baju2, sticker, mainan, semua berbau militer. Saya juga diajari nama-nama singkatan di ketentaraan, seperti KOPASUS, KOSTRAD, PM, dll. Ibu saya ingin saya jadi tentara.

Ketika malam hari saat saya hendak tidur, Ibu saya selalu mendongengkan cerita kegagahan dan perjuangan Ayah sebagai TNIAD. Ibu selalu bersemangat saat menceritakan tentang Ayah. Ia mendeskripsikan dengan rinci seperti apa Ayah saya di matanya. Beliau juga menceritakan kisah bagaimana Ayah saya yang seorang Tentara bisa bertemu dengannya yang saat itu bekerja sebagai Sales Buku di perusahaan Tiga Raksa.

"Namun suatu waktu, Ayah kalah dalam perang. Ia dibunuh oleh jantungnya sendiri." Begitu yg ibu saya katakan pada saya menutup ceritanya. Ayah saya kalah dalam perang dengan Jantungnya sendiri. Jantungnya berhenti memompa darah. Setidaknya itu kata Ibu saya. Saya percaya Ibu saya tak mungkin bohong. Saya bisa melihat itu dari matanya yang berkaca-kaca penuh haru. Menahan diri sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh di depan sang anak.

Saya hanya bisa melihat kegagahan Ayah saya melalui foto-foto yg Ibu saya tunjukkan. Sang Ayah meninggalkan seorang anak berumur 2bulan waktu itu. Sang anak tentu belum bisa menyimpan memori apa-apa pada umur sekecil itu.

Waktu kecil, setiap saya bertemu Tentara dimanapun itu, saya selalu minta salam dan berfoto. Mungkin saat itu saya pikir itu sosok "Ayah".
Karena mungkin Saya, -yang dari kecil tak pernah melihat sosok Ayah- merasa TNI adalah gambaran Ayah saya. Gagah Berani. Rela Berkorban. Pelindung.

Ah, Selamat Ulang Tahun ke-67, Tentara Nasional Indonesia.
Semoga bisa tetap menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Hidup TNI!!

my Beloved Father.


1 comment:

saran dan kritik dipersilahkan . . . . .